Model atap tentunya menentukan lebih dari sekadar tampilan rumah. Bentuk atap juga memengaruhi seberapa cepat air hujan mengalir, seberapa panas ruangan di bawahnya, berapa banyak rangka yang Anda butuhkan, dan material penutup apa yang paling cocok. Oleh karena itu, sebaiknya Anda memilih model atap rumah bersamaan dengan memilih materialnya.
Berikut pembahasan model atap rumah yang paling populer di Indonesia. Selain itu, Anda juga akan menemukan kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta material penutup yang sesuai agar rumah tetap sejuk dan bebas bocor di iklim tropis.
Hal yang Perlu Anda Pertimbangkan Sebelum Memilih Model Atap
Sebelum melihat daftar model, pastikan empat hal berikut lebih dulu:
- Curah hujan di lokasi rumah. Daerah dengan hujan deras membutuhkan atap dengan kemiringan cukup agar air tidak menggenang.
- Arah dan intensitas sinar matahari. Jika atap menghadap matahari sepanjang hari, pilih material yang tidak meneruskan panas ke dalam rumah.
- Kekuatan struktur. Model dengan banyak sudut dan bidang tentunya membutuhkan rangka lebih banyak. Karena itu, material yang ringan membantu mengurangi beban struktur.
- Gaya arsitektur rumah. Rumah minimalis, tropis modern, dan tradisional masing-masing punya model atap yang paling serasi.
Jika Anda belum familier dengan istilah seperti kuda-kuda, gording, dan reng, baca dulu panduan pembagian struktur atap bangunan dan komponen penyusunnya.
8 Model Atap Rumah yang Populer di Indonesia
1. Atap Pelana
Atap pelana terdiri dari dua bidang miring yang bertemu di bubungan, sehingga dari samping terlihat seperti segitiga. Model ini paling umum di Indonesia karena strukturnya sederhana dan air hujan cepat turun ke dua sisi.
Kelebihan: rangka lebih sedikit, ruang di bawah atap cukup lega untuk sirkulasi udara, dan perawatannya mudah.
Kekurangan: sisi segitiga (gevel) terbuka terhadap angin dan hujan dari samping, sehingga Anda perlu listplank atau dinding pelindung.
Material yang cocok: genteng, atap UPVC lembaran panjang, dan genteng UPVC.

2. Atap Perisai (Limasan)
Sementara itu, atap perisai memiliki empat bidang miring: dua berbentuk trapesium dan dua berbentuk segitiga. Karena atap menutup semua sisi rumah, dinding pun lebih aman dari tampias.
Kelebihan: lebih kokoh terhadap angin, melindungi seluruh sisi dinding, dan tampil rapi dari segala arah.
Kekurangan: rangka lebih rumit dan membutuhkan material lebih banyak di bagian jurai (pertemuan dua bidang miring).
Material yang cocok: genteng tanah liat, genteng keramik, dan genteng UPVC seperti Rooftile yang lebih ringan untuk rangka.

3. Atap Datar (Dak Beton)
Atap datar banyak menghiasi rumah bergaya kontemporer, terutama rumah yang ingin memanfaatkan bagian atas sebagai rooftop atau area jemur.
Kelebihan: tampilan modern dan tegas, dan pemilik rumah bisa memanfaatkan ruang di atasnya.
Kekurangan: rawan rembes jika lapisan anti bocor tidak sempurna. Selain itu, dak beton menyerap panas matahari sepanjang hari dan bebannya berat.
Material yang cocok: dak beton yang tentunya memakai lapisan waterproofing. Untuk area di atas dak, seperti tempat jemur, Anda bisa menambahkan atap UPVC sebagai peneduh.
4. Atap Miring Satu Sisi (Atap Sandar)
Atap ini memang hanya memiliki satu bidang miring. Biasanya, model ini muncul pada rumah minimalis, teras, carport, dan bangunan tambahan di belakang rumah.
Kelebihan: struktur paling sederhana, cepat terpasang, dan memberi kesan modern.
Kekurangan: semua air hujan mengalir ke satu sisi, sehingga talang di sisi bawah harus cukup besar.
Material yang cocok: lembaran atap UPVC panjang, karena satu lembar bisa menutup dari ujung atas ke ujung bawah tanpa banyak sambungan.
5. Atap Kupu-Kupu
Dua bidang atap miring ke arah tengah sehingga bentuknya seperti sayap kupu-kupu yang terbuka. Akibatnya, air hujan berkumpul di talang tengah.
Kelebihan: tampilan unik, dan bagian depan serta belakang rumah bisa memiliki plafon tinggi dan jendela besar.
Kekurangan: talang tengah harus besar, dan Anda perlu rutin membersihkannya agar tidak meluap.
Material yang cocok: atap lembaran yang tahan genangan dan tidak berkarat, seperti atap UPVC.
6. Atap Mansard
Atap mansard memiliki dua kemiringan di tiap sisi: bagian bawah sangat curam, sedangkan bagian atas lebih landai. Umumnya, model ini menghiasi rumah bergaya klasik Eropa.
Kelebihan: ruang di bawah atap bisa menjadi kamar atau loteng.
Kekurangan: konstruksi rumit, sehingga biaya rangka lebih tinggi.
Material yang cocok: genteng ringan agar beban pada bagian curam tidak berlebihan.
7. Atap Joglo dan Atap Tradisional
Atap joglo, gadang, dan model tradisional lain memiliki bentuk khas daerah dengan kemiringan yang sangat curam.
Kelebihan: ruang dalam sangat tinggi dan sejuk, serta nilai estetika budayanya kuat.
Kekurangan: rangka kayu besar, dan pengerjaannya membutuhkan tukang berpengalaman.
Material yang cocok: genteng tanah liat untuk tampilan otentik, atau genteng UPVC untuk mengurangi beban dan risiko bocor.
8. Atap Kombinasi
Terakhir, banyak rumah modern menggabungkan beberapa model. Misalnya, atap pelana di bangunan utama, atap datar di lantai dua, dan atap miring satu sisi di teras.
Kelebihan: fleksibel, karena bentuknya bisa mengikuti denah rumah.
Kekurangan: makin banyak pertemuan bidang, makin banyak titik yang berisiko bocor. Karena itu, tukang harus mengerjakan detail sambungan dengan teliti.

Tabel Ringkas: Model Atap dan Material yang Cocok
| Model atap | Cocok untuk | Material penutup yang cocok |
|---|---|---|
| Pelana | Rumah tinggal umum | Atap UPVC lembaran, genteng UPVC, genteng |
| Perisai (limasan) | Rumah di daerah berangin | Genteng UPVC, genteng keramik |
| Datar (dak) | Rumah kontemporer, rooftop | Dak beton + waterproofing, atap UPVC untuk peneduh |
| Miring satu sisi | Rumah minimalis, teras, carport | Atap UPVC lembaran panjang |
| Kupu-kupu | Rumah modern dengan plafon tinggi | Atap UPVC |
| Mansard | Rumah klasik dengan loteng | Genteng ringan |
| Joglo/tradisional | Rumah adat, pendopo | Genteng tanah liat atau genteng UPVC |
Kenapa Atap UPVC Cocok untuk Banyak Model Atap
Khususnya untuk model pelana, miring satu sisi, dan kupu-kupu, atap UPVC lembaran menjadi pilihan yang praktis. Sebab, satu lembar bisa sangat panjang sehingga sambungannya lebih sedikit. Selain itu, Atap UPVC Holodeck memiliki keunggulan berikut:
- Berongga (double layer) setebal 12 mm, sehingga rongga udaranya membantu menahan panas dan meredam suara hujan hingga 20 dB lebih baik daripada atap logam.
- Lapisan ASA anti-UV yang menjaga warna tetap awet di bawah terik matahari.
- Anti korosi, sehingga tidak berkarat meski terkena hujan dan udara lembap bertahun-tahun.
- Api tidak merambat jika terjadi kebakaran di sekitar atap.
- Garansi 15 tahun dan TKDN 76%.
Holodeck juga hadir dalam beberapa warna, sehingga Anda bisa menyesuaikannya dengan fasad rumah. Lihat pilihan warna atap UPVC Holodeck.
Tips Memilih Model Atap Rumah
- Ikuti kemiringan minimum material. Setiap material penutup punya batas kemiringan agar air tidak masuk. Untuk atap UPVC, baca kemiringan ideal atap UPVC.
- Kurangi pertemuan bidang jika tidak perlu. Sebab, setiap jurai dan talang adalah titik rawan bocor.
- Pertimbangkan beban. Material ringan memungkinkan rangka yang lebih hemat, sehingga biaya struktur turun.
- Pikirkan perawatan jangka panjang. Material yang tidak berkarat dan tidak mudah pecah tentunya akan menghemat biaya perbaikan.
- Konsultasikan dengan kontraktor atau arsitek sebelum menentukan model final.
Kesimpulan
Jadi, tidak ada satu model atap rumah yang terbaik untuk semua rumah. Biasanya, atap pelana dan perisai cocok untuk rumah tinggal. Sementara itu, atap miring satu sisi pas untuk rumah minimalis dan teras, sedangkan atap datar cocok untuk rumah kontemporer yang membutuhkan rooftop. Yang terpenting, pasangkan model atap dengan material yang sesuai iklim tropis: sejuk, tidak berisik, dan tidak berkarat.
Masih bingung memilih model dan material atap untuk rumah Anda? Konsultasi gratis via WhatsApp dengan tim Holodeck, atau download brosur untuk melihat spesifikasi lengkapnya.